Dear Kamu,
Entah kamu nanti akan membacanya besok atau bahkan tidak sama sekali tapi aku mengetik ini malam-malam ketika akhirnya aku bisa melukis kembali wajahmu dalam imajiku yang kian hari kian hilang. Alismu nan tebal bagai alis mata Sinchan ( ya, 2 garis tebal yang bertengger di atas matamu); hidungmu yang kokoh bagai Shahru Khan (hahaha, ingatkah kamu ketika meniru tariannya?); dan bibirmu yang tebal dan menghitam karena terlalu sering melumat teriknya sinar matahari. Itu belum seberapa, hingga aku bisa membayangkan bagaimana tangan dan semua indra yang ada padamu 'menyentuh' aku.
.
.
Akhh.. betapa ternyata aku merindukan setiap detil yang ada padamu.
Dan aku baru menyadari alasanku tidak pernah mau menyimpan foto kita berdua dan kemudian dengan sengaja menyusunnya menjadi altar pemuja rindu. Karena aku tidak mau hubungan kita seperti itu, sama sekali tidak. Sekedar hubungan basi yang dipenuhi dengan senyum sopan santun, ritual kamis malam, pameran kemesraan, atau menjalani hal sesuai dengan tempatnya.
Malam ini aku baru menyadari apa arti hubungan kita. Bahwa yang kita pertahankan bukan sekedar sebuah ikatan legal yang berkekuatan hukum dan sah dimata-Nya, bukan pula definisi eksistensi kita dalam masyarakat luas. Jelas sekali bukan seperti apa yang ada di buku atau apa yang orang kebanyakan bilang.
Tapi kita adalah..
Aku yang ternyata cacat tanpamu dan begitu pula sebaliknya.
Aku yang tidak bisa tidur tanpa kulitmu menyentuh kulitku.
Aku yang selalu rindu pelukmu meski 5 detik lalu baru kurasakan.
Aku yang berusaha mengerti kesukaanmu dan sebaliknya.
Aku yang tertawa saat kita berada dalam kesulitan.
Aku yang menunggu hingga larut malam, begitu juga kamu.
Satu hal yang pasti, kita adalah aku yang berjanji untuk membawa dan memakan whopper bersamamu dan kamu adalah yang menahan lapar untuk memakan whopper bersamaku.
Tuesday, February 18, 2014
Thursday, September 5, 2013
Letih 1.1
Kadang aku terlalu letih untuk mendengar
Mendengar mereka yang menyombongkan dirinya
Mendengar mereka yang mengeluh hal yang seharusnya disyukuri
Mendengar mereka berusaha menyakitkan hati yang lain dengan kata
Kadang aku terlalu letih untuk melihat
Melihat mereka yang saling membunuh untuk mencapai posisi juara
Melihat mereka yang cepat berganti topeng namun saling bergunjing mengenai topeng yang lain
Melihat mereka yang merobek mulut, menodai tubuh, atau bersetubuh dengan segelas vodka hanya untuk eksitensi
Kadang aku terlalu letih untuk berbicara
Berbicara bahwa perbedaan bukan untuk dimusuhi, tapi disingkapi dengan damai
Berbicara untuk menjelaskan tentang sebuah masalah yang punya berbagai sudut pandang
Berbicara eksistensi, benda, orang, bahkan makanan sekalipun adalah hal yang fana.
Yang tidak akan dibawa ke liang lahat
Kadang aku terlalu letih untuk menjadi manusia
Mendengar mereka yang menyombongkan dirinya
Mendengar mereka yang mengeluh hal yang seharusnya disyukuri
Mendengar mereka berusaha menyakitkan hati yang lain dengan kata
Kadang aku terlalu letih untuk melihat
Melihat mereka yang saling membunuh untuk mencapai posisi juara
Melihat mereka yang cepat berganti topeng namun saling bergunjing mengenai topeng yang lain
Melihat mereka yang merobek mulut, menodai tubuh, atau bersetubuh dengan segelas vodka hanya untuk eksitensi
Kadang aku terlalu letih untuk berbicara
Berbicara bahwa perbedaan bukan untuk dimusuhi, tapi disingkapi dengan damai
Berbicara untuk menjelaskan tentang sebuah masalah yang punya berbagai sudut pandang
Berbicara eksistensi, benda, orang, bahkan makanan sekalipun adalah hal yang fana.
Yang tidak akan dibawa ke liang lahat
Kadang aku terlalu letih untuk menjadi manusia
Tuesday, June 11, 2013
Tentang Cinta (Prolog)
Hari ini akhirnya datang juga
Yang mungkin membuat hidupku, hidupmu atau dia akan berubah
Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri
Saat dia lahir, perlahan-lahan keluar dari diriku
Saat dia membuat kupu-kupu di perutku terbang tidak beraturan
sehingga membuatku mulas tidak tertahan
Saat dia membuat kepalaku pecah berantakan
dan dengan mudahnya membuat logikaku berserakan
Dan pada waktu itu aku yakin,
bahwa dia akan menjadi sesosok yang mungkin dibenci atau digilai
Aku yakin betul bahwa memang itu adalah takdirnya
Menjadi defisini dari perkawinan antara hati dan logika
Cinta adalah namanya
Dan kisahnya akan dimulai dari hari ini
Yang mungkin membuat hidupku, hidupmu atau dia akan berubah
Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri
Saat dia lahir, perlahan-lahan keluar dari diriku
Saat dia membuat kupu-kupu di perutku terbang tidak beraturan
sehingga membuatku mulas tidak tertahan
Saat dia membuat kepalaku pecah berantakan
dan dengan mudahnya membuat logikaku berserakan
Dan pada waktu itu aku yakin,
bahwa dia akan menjadi sesosok yang mungkin dibenci atau digilai
Aku yakin betul bahwa memang itu adalah takdirnya
Menjadi defisini dari perkawinan antara hati dan logika
Cinta adalah namanya
Dan kisahnya akan dimulai dari hari ini
Monday, June 3, 2013
Ragu pada rindu
Aku tau kamu mau
Kamu tau aku mau
Hanya saja aku malu
Malu mengaku
Mengaku bahwa aku rindu
Rindu tanpa ragu
Tuesday, April 23, 2013
Malam malam
"Kamu ga pulang?"
Aku menggelengkan kepala
"Dijemput"
Sekali lagi kepalaku menggeleng
"Kamu kenapa ga pulang?"
Dia diam
"Jemput?"
Dia mengangguk
Entah mengapa mata ini memanas
Jika mata adalah bagian tubuh yang paling jujur, mungkin dia akan berteriak
Berorasi padanya untuk tidak meninggalkan aku disini sendiri
Mungkin aku bisa jadi perempuan itu
Mungkin dia bisa jadi laki-laki itu
Yang ditinggal pergi
Yang menatap sepi
Yang menunggu hari
Untuk malam ini saja
Bisakah aku tidak menjadi wanita itu
Dan dia tidak menjadi pria itu?
Aku menggelengkan kepala
"Dijemput"
Sekali lagi kepalaku menggeleng
"Kamu kenapa ga pulang?"
Dia diam
"Jemput?"
Dia mengangguk
Entah mengapa mata ini memanas
Jika mata adalah bagian tubuh yang paling jujur, mungkin dia akan berteriak
Berorasi padanya untuk tidak meninggalkan aku disini sendiri
Mungkin aku bisa jadi perempuan itu
Mungkin dia bisa jadi laki-laki itu
Yang ditinggal pergi
Yang menatap sepi
Yang menunggu hari
Untuk malam ini saja
Bisakah aku tidak menjadi wanita itu
Dan dia tidak menjadi pria itu?
Monday, April 8, 2013
Ada apa diantara masalah?
Setiap kejadian sebenernya memiliki Hikmah tersendiri bukan?
Atau kata yang paling sering saya gunakan untuk ini adalah "pencerahan diantara masalah".
Mengapa saya pakai kata diantara; karena saya sering kali menemukan pencerahan itu kala saya sedang berhadapan dengan masalah, bukan hanya pada saat masalah tersebut sudah selesai. Berkat pencerahan yang muncul saat masalah itu ada, saya jadi bisa menyelesaikan masalah itu dengan pola pikir yang sehat dan tanpa menimbulkan marah, kesal, emosi berlebih darinya. Bahkan sering kali, pencerahan itu memunculkan pencerahan lainnya meski dalam konteks yang berbeda. Iya, layaknya regenerasi pencerahan dalam diri
Seringnya, manusia jarang sekali mau mencari atau melihat pencerahan yang sesungguhnya menguntungkan baik untuk dirinya sendiri atau orang lain. Memang tidak mudah menemukan pencerahan dari tiap masalah atau kejadian yang menghampiri pribadi, saya akui itu. Butuh kesiapan hati dan pikiran yang terbuka untuk dimasuki oleh pencerahan. Dan disitulah sulitnya.. Sulit untuk manusia membuka hati yang penuh dengan kedengkian, kebencian, dan penyakit hati lainnya. Sulit juga untuk manusia melebarkan pikiran yang sering kali penuh dengan kecemasan, asumsi, label dan pikiran jelek lainnya. Entah, mungkin manusia memang sudah memiliki paket itu makanya terkadang dikatakan manusiawi (saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk ini).
Menemukan pencerahan di kala berhadapan dengan masalah rasanya memang tidak begitu mengasyikan. Seperti sedang dikuliti pelan, diberi taburan garam setelahnya, dan dijemur kering di terik matahari. Sakit. Bayangkan pikiran dan hati kamu diharuskan bebas dari rasa negatif dan diharuskan menemukan hal positif dari masalah yang mengguncang duniamu, memukul bertubi-tubi pikiranmu atau mengiris hatimu menjadi serpihan. Reaksi paling mudah untuk itu adalah marah, menyalahkan yang lainnya, atau berpikir negatif. Benar?
Dan saya meyakini bahwa hal inilah yang menyulitkan manusia menemukan pencerahan. Dan saya juga menyakini bahwa hal apapun yang diselesaikan atau dijalani dengan memilih reaksi paling mudah ini adalah fana. Sayangnya, memilih hal mudah, semisal menyalahkan orang lain pada peristiwa mengiris hati, adalah yang paling sering terjadi.
Ah andai banyak orang lebih membuka hati ketimbang memilih reaksi paling mudah, mungkin perdamaian dunia tidak lagi menjadi utopis.
Tuesday, April 2, 2013
Perihmu, Perihku
Akhirnya tiba hari ini
Aku dan kamu yang memutuskan untuk pergi
Mencari bahagia dengan caranya sendiri
Mungkin kita terlalu lama saling menyakiti
Tanpa sadar kaki ini telah lelah dan tak kuat untuk berdiri
Berdiri disampingmu hingga akhir nanti
Yang tersisa darimu kini hanya kenangan
Saat kamu menarikku untuk berpegangan tangan
Saat keningku menjadi target kecupan
Saat rinduku yang terhapus hanya dengan pelukan
Saat kita berbagi angan tentang masa depan
"Ah sudah bukan saatnya bersedih", hatiku bilang
"Didepan sana masih akan banyak aral melintang, jangan gamang! "
Cinta tidak pergi, tidak menghilang
Dia hanya butuh diam, butuh tenang
Jika saatnya tiba, cinta akan kembali mencari pasang
Yang menjaga dan mengelilingi dengan rasa sayang
Sayang yang nyata
Sayang yang dewasa
Sayang yang bukan kita
*terinspirasi dari perihmu
Aku dan kamu yang memutuskan untuk pergi
Mencari bahagia dengan caranya sendiri
Mungkin kita terlalu lama saling menyakiti
Tanpa sadar kaki ini telah lelah dan tak kuat untuk berdiri
Berdiri disampingmu hingga akhir nanti
Yang tersisa darimu kini hanya kenangan
Saat kamu menarikku untuk berpegangan tangan
Saat keningku menjadi target kecupan
Saat rinduku yang terhapus hanya dengan pelukan
Saat kita berbagi angan tentang masa depan
"Ah sudah bukan saatnya bersedih", hatiku bilang
"Didepan sana masih akan banyak aral melintang, jangan gamang! "
Cinta tidak pergi, tidak menghilang
Dia hanya butuh diam, butuh tenang
Jika saatnya tiba, cinta akan kembali mencari pasang
Yang menjaga dan mengelilingi dengan rasa sayang
Sayang yang nyata
Sayang yang dewasa
Sayang yang bukan kita
*terinspirasi dari perihmu
Subscribe to:
Comments (Atom)